Home » »

Written By Husnhy Rasta Manja on Jumat, 15 November 2013 | 22.05

Gizi Masyarakat dan Permasalahannya
a. Latar Belakang
Ilmu yang mempelajari atau mengkaji masalah makanan yang dikaitkan dengan kesehatan ini dibuat ilmu gizi. Batasan klasik mengatakan bahwa ilmu gizi ialah ilmu yang mempelajari nasib makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi serta diekskresikan sebagai sisa. (Achmad Djaeni, 1987). Dalam perkembangan selanjutnya ilmu gizi mulai dari pengadaan, pemeliharaan, pengelolaan, sampai dengan penyajian makanan tersebut. Dari batasan tersebut, dapat ditarik ksimpulan bahwa ilmu gizi itu mencakup dua komponen penting yaitu makanan dan kesehatan.
Untuk mencapai kesehatan yang optimal diperlukan makanan bukan sekadar makanan tetapi makanan yang mengandung zat-zat gizi makro maupun mikro yang bertujuan sesuai dengan pengertian gizi itu sendiri.
b. Gizi dan Fungsinya
Ilmu yang mempelajari atau mengkaji masalah makanan yang dikaitkan dengan kesehatan ini dibuat ilmu gizi. Batasan klasik mengatakan bahwa ilmu gizi ialah ilmu yang mempelajari nasib makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi serta diekskresikan sebagai sisa. (Achmad Djaeni, 1987). Dalam perkembangan selanjutnya ilmu gizi mulai dari pengadaan, pemeliharaan, pengelolaan, sampai dengan penyajian makanan tersebut. Dari batasan tersebut, dapat ditarik ksimpulan bahwa ilmu gizi itu mencakup dua komponen penting yaitu makanan dan kesehatan.
Untuk mencapai kesehatan yang optimal diperlukan makanan bukan sekadar makanan tetapi makanan yang mengandung gizi atau zat-zat gizi. Kesehatan ini dikelompokan menjadi 5 macam, yakni protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Fungsi-fungsi zat makanan itu antara lain sebagai berikut :
a. Protein, diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (protein nabati), dan makanan dari hewan (protein hewani). Fungsi protein bagi tubuh
b. Lemak, berasal dari minyak goring, daging, margarine dan sebagainya fungsi pokok lemak bagi tubuh adalah menghasilkan energi.
c. Karbohidrat, berdasarkan gugus penyusun gulanya dapat dibedakan menjadi monosakarida, disakarida dan polisakarida. Fungsinya adalah salah satu komponen pembentukan energi
d. Vitam-vitamin, yang dibedakan menjadi dua yakni vitamin yang larut dalam air (vitamin A dan B), dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K)
e. Mineral terdiri dari zat kapur (Ca), zat besi (Fe), zat flour (F), natrium (Na) dan chlor (Cl), kalium (K), dan yodium (I).
c. Penyakit-Penyakit Gizi
Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan atau sering disebut status gizi. apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan gizi optimum dimana jaringan jenuh oleh semua zat gizi, maka disebut status gizi optimum, dalam kondisi demikian tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setinggi-tingginya apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh, maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition) malnutrition ini mencakup kelebihan nutirisi/gizi disebut gizi lebih (overnatrium) dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition).
1. Penyakit kurang kalori dan protein (KKP)
Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi, atau terjadinya defisien atau deficit energi dan protein. Pada umumnya penyakit ini terjadi pada anak balita, karena pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Apabila konsumen makanan tidak seimbangan dengan kebutuhan kalori, maka akan terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein). Penyakit ini dibagi dalam tingkat-tingkat yakni :
a. KKP ringan, kalau berat badan anak mencapai antara 84%-95% dari berat badan menurut standar Harvard
b. KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44%-60% dari berat badan menurut standar Harvard
c. KKP berat (gizi buruk), kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan menurut standar Harvard
Beberapa ahli hanya membedakan adanya dua macam KKP saja yakni KKP ringan atau gizi kurang dan KKP berat (gizi buruk) atau lebih sering disebut marsmus (kwashiorhor). Anak atau penderita marsmus ini tampak sangat kurus, berat badan kurang dari 60% dari berat badan ideal menurut umur, muka berkerut seperti orang tua, apatis terhadap sekitarnya, rambut kepala halus dan jarang berwarna kemerahan.
Penyakit KKP pada orang dewasa memberikan tanda-tanda kimia oedema atau horger oedema (H. O) atau juga disebut penyakit kurang makan, kelaparan atau busung lapar. Endema pada penderita biasanya tampak pada daerah kaki.
2. Penyakit kegemukan (Obesitas)
Penyakit ini terjadi ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, yakni konsumsi kalori terlalu berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi didalam tubuh ini simpan dalam bentuk lemak. Pada keadaan normal, jaringan lemak ini ditimbun di tempat-tempat tertentu diantaranya dalam jaringan tirai usus. Seorang dikatakan menderita obesitas bila berat badanya pada laki-laki melebihi 15% dan pada wanita melebihi 20% dari berat badan ideal menurut umurnya.
Pada orang yang menderita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat, karena harus membawa kelebihan berat badan. Oleh sebab itu pada umumnya lebih cepat gerah, capai, dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja. Akibat dari penyakit oesitas ini, para penderitanya cenderung menderita penyakit-penyakit : kardio-vaskuler, hipertensi dan diabetes malitus berat badan yang ideal pada orang dewasa menurut rumus dubois ialah :
B (Kg) = (t cm – 10) + 10% dengan
B = Berat badan hasil perkiraan/pengukuran
T = Tinggi badan
Oleh bagian gii fakultas kedokteran universitas Indonesia, dilakukan koreksi sebagai :
B (Kg) = {{Tcm-100)-10%}+10%
3. Anemia (Penyakit kurang darah)
Penyakit terjadi karena konsumsi zat besi (Fe) pada tubuh tidak seimbang atau kurang dari kebutuhan tubuh. Zat besi merupakan micro elemen yang esensial bagi tubuh, yang sangat diperlukan dalam pembentukan darah, yakni dalam hemoglobin (hb). Di samping itu Fe juga diperlukan enzim sebagai pengiat. Zat besi (Fe) lebih mudah diserap oleh usus halus dalam bentuk feero. Penyerapan ini mempunyai mekanisme autoregulasi yang diatur oleh kadar feritin yang terdapat dalam sel-sel mukosa usus. Dalam kondisi Fe yang baik, hanya sekitar 10% saja dari Fe yang terdapat didalam makanan diserap ke dalam mukosa usus eksresi Fe dilakukan melalui kulit, di dalam bagian-bagian tubuh yang aus dan dilepaskan oleh permukaan tubuh yang jumlahnya sangat kecil sekali. Sedangkan pada wanita eksresi Fe lebih banyak melalui menstruasi. Oleh sebab itu, kebutuhan Fe pada wanita dewasa, lebih banyak dibandingkan dengan pada pria. Pada wanita hamil kebutuhan fe meningkat karena bayi yang dikandung juga memerlukan fe ini.
Defisiensi Fe atau anemia besi di Indonesia jumlahnya besar sehingga sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat. Program penanggulangan anemi besi, khususnya untuk ibu hamil sudah dilakukan melalui pemberian fe secara Cuma-Cuma melalui Puskesmas atau Posyandu. Akan tetapi karena masih rendahnya pengetahuan sebagian besar ibu-ibu hamil masih rendah, maka program ini tampak berjalan lambat.
4. Zeropthalmia
Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A di dalam tubuh. Gejala-gejala penyakit ini adalah kekeringan epitel biji mata dan kornea, karena glandula lacrimalis menurun fungsi mata disebut buta senja atau buta ayam, tidak sanggup melihat pada cahaya remang-remang pada stadium lanjut maka mengoreng karena sel-selnya menjadi lunak yang disebut keratomalacia dan dapat menimbulkan kebutaan.
Fungsi vitamin A sebenarnya mencakup 3 fungsi yakni : fungsi dalam proses dalam proses melihat, dalam proses metabolisme, dan proses reproduksi. Gangguan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin A yang menonjol, khususnya di Indonesia adalah gangguan dalam proses melihat yang disebut zeropthalmin ini.
5. Penyakit Gondok Endemik
Zat iodium merupakan zat gizi enesial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari hormone thyroxin. Zat iodium ini dikonsentrasikan di dalam kelenjar gondok, terkonjugsi dengan protein (globulin), maka disebut thyroglobulin. Apabila diperlukan thyroglobulin ini dipecah dan terlepas hormone thyroxin yang dikeluarkan dari folikel kelenjar ke dalam aliran darah.
Kekurangan zat iodium ini berakibat kondisi hypotroiidisme (kekurangan iodium), dan tubuh mencoba untuk menkonpensasi dengan menambah jaringan kelenjar gondok. Akibatnya terjadi hypertrophy (membesarnya kelenjar thyroid), yang kemudian disebut penyakit gondok. Apabila kelebihan zat iodium maka akan mengakibatkan gejala-gejala pada kulit yang disebut iodium dermatitis. Penyakit gondok ini di Indonesia merupakan endemic terutama di daerah-daerah terpencil di pegunungan, yang air minumnya kekurangan zat iodium. Oleh sebab itu, penyakit kekurangan iodium ini disebut gondok endemic.
Kekurangan iodium juga dapay menyebabkan gangguan kesehatan lain yakni “cretinisma”, kretinisma adalah suatu kondisi penderita dengan tinggi badan dibawah normal (cebol). Kondisi ini disertai berbagai tingkat keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan, dari hambatan ringan sampai dengan sangat berat (debil). Ekspresi muka seorang cretin ini memberikan kesan orang bodah, karena tingkat kecerdasannya sangat rendah. Pada umumnya seorang crtin ini dilahirkan dari ibu yang sewaktu hamil kekurangan zat iodium.
Therap penyakit ini pada dewasa pada umumnya tidak memuaskan. Oleh sebab itu, penanggulangan yang paling baik adalah pencegahan, yaitu dengan memberikan dosis iodium kepada para ibu hamil. Untuk penanggulangan penyakit akibat kekurangan iodium dalam rangka peningkatan kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui program iodiumunisasi, yaitu dengan penyediaan garam dapur yang diperkaya dengan oidium. Dalam kaitan ini pemerintah Indonesia melalui departemen perindustrian telah memproduksi khusus garam oidium unyuk daerah-daerah endemic.
d. Kelompok Rentan Gizi
Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok di dalam masyarakat yang paling mudah menderita gangguan kesehatannya atau rentan karena kekurangan gizi. Biasanya kelompok umur tertentu dalam siklus kehidupan manusia. Pada kelompok umur tertentu dalam siklus kehidupan manusia. Pada kelompok perkembangan yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur yang lain. Oleh sebab itu, apabola kekurangan zat hizi maka akan terjadi gangguan gizi atau kesehatannya. Kelompok-kelompok rentan gizi ini terdiri dari :
f. Kelompok Bayi umur 0-1 tahun
g. Kelompok dibawah lima tahun (balita) 1-5 tahun
h. Kelompok anak sekolah, umur 6-12 tahun
i. Kelompok remaja, umur 13-20 tahun
j. Kelompok ibu hamil dan menyusui
k. Kelompok usia (usia lanjut)
Kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi, meskipun kelompok ini tidak dalam proses pertumbuhan dan petkembangan. Hal ini disebabkan karma pada usia lanjut terjadi proses degenerasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelaianan gizi.
1. Kelompok bayi
Didalam siklus kehidupan manusia, bayi berada di dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat. Bayi yang dilahirkan dengan sehat, pada umur 6 bulan akan mencapai pertumbuhan atau berat badan 2 kali lipat dari berat badan pada waktu dilahirkan. Untuk pertumbuhan bayi dengan baik zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan ialah :
a. Protein, dibutuhkan 3-4 gram/kilogram berat badan
b. Calsium (Cl)
c. Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada didaerah tropis, maka hal ini tidak begitu menjadi masalah
d. Vitamin A dan K yang harus diberikan sejak post natal
e. Fe (zat besi) diperlukan, karena didalam proses kelahiran sebagian Fe ikut terbuang
Secara alamiah sebenarnya zat-zat gizi tersebut sudah terkandung didalam ASI (Air Susu Ibu). Oleh sebab itu, apabila gizi makan ibu cukup baik, dan anak diberi ASI pada umur sampai 4 bulan zat-zat gizi tersebut sudah dapat mencukupi. Pemberian ASI sja tanpa makanan tambahan lain sampai pada umur 4 bulan ini tersebut pemberian ASI exlusive. Di samping itu ASI juga mempunyai keunggulan, yakni mengandung immunologlobin yang memberi daya tahan tubuh pada bayi, yang berasal dari tubu ibu. Immunologlobin ini dapat bertahan pada anak sampai dengan bayi berumur 6 bulan.
Peralihan ASI kepada makanan tambahan (FMT) harus dilakukan sesuai dengan kondisi anatomi dan fungsional alat pencernaan bayi. Setelah masa pemberian ASI ekslusif terakhir, maka mulai umur 4 bulan bayi diberi makanan tambahan itu pun makanan yang sangat tulus. Kemudian mulai umur 9 bulan sudah dapat diberikan makanan tambahan yang lunak, sampai dengan umur 18 bulan. ASI tetap diteruskan, dan mulai berumur 18 bulan dapat diberikan makanan tambahan agak keras (semi solid), smpai dengan umur 2 tahun. Sudah diberi makanan seperti makanan orang dewasa. Mengenai jumlah makanan tambahan pun juga makin lama makin ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan kalori yang diperlukan bayi/anak untuk berkembang.
TABEL PERALIHAN ASI KE MAKANAN DAN
KEBUTUHAN KALORI
Umur anak PMT Kebutuhan kalori
0-4 bulan ASI saja 300 kalori
4-9 bulan Makanan halus 800 kalori
9-12 bulan Makanan lembut 900 kalori
12-18 bulan Makana lunak 1100 kalori
18-24 bulan Makanan semi keras 1300 kalori
24 bulan (2 tahun) Makan dewasa dan disapih
2. Kelompok anak balita
Beberapa kondisi atau anggapan yang menyebabkan anak balita ini rawan gizi dan rawan kesehatan antara lain sebagai berikut :
a. Anak balita baru dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa
b. Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik dan kurangnya perhatiannya ibu.
c. Anak balita lebih terpapar dengan lingkungan kotor yang memungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai penyakit.
d. Anak balita belum dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam memilih makanan. Dan ibu tidak memperhatikan makanan balita.
Upaya untuk membina kesehatan dan gizi kelompok ini dengan adanya posyandu.
3. Kelompok anak sekolah
Pada umumnya kelompok umur ini mempunyai kegiatan yang lebih baik dibandinglan dengan kesehatan anak balota. Masalah-masalah yang timbul pada kelompok ini antara lain : berat badan rendah, defisiensi Fe (kurang darah).
Program UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) adalah sangat tepat untuk membina dan meningkatkan gizi dan kesehatan kelompok ini.
4. Kelompok remaja
Pertumbuhan anak remaja pada umur ini juga sangat pesat, kemudian juga kegiatan-kegiatan jasmani termasuk olehraga juga pada kondisi puncaknya. Oleh sebab itu, apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori untuk pertumbuhan dan kegiatan-kegiatannya, maka akan terjadi defisiensi yang akhirnya dapat menghambat pertumbuhannya. Pada anak berarti mulai terjadi menarche (awal menstruasi), yang berarti mulai terjadi pembuangan Fe. Oleh sebab itu, kalau konsumsi makanan, khususnya Fe maka akan terjadi kekurangan Fe (anemia).
Upaya untuk membina kesehatan dan gizi kelompok ini juga dapat dilakukan melalui sekolah (UKS)
5. Kelompok Ibu Hamil
Ibu hamil sebenarnya juga berhubungan dengan proses pertumbuhan, yaitu pertumbuhan janin yang dikandungnya dan kehamilan tersebut, misalnya mammae. Untuk mendukung berbagai proses pertumbuhan ini, maka kebutuhan makanan sebagai sumber energi juga meningkat.
Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang meningkat ini tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh ibu jamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada hamil dapat berakibat ;
a. Berat Badan Bayi Rendah (BBLR)
b. Kelahiran prematur
c. Lahir dengan berbagai kesulitan dan lahir mati
6. Ibu menyusui
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan utama bayi oleh sebab itu, maka untuk menjamin kecukupan ASI bagi bayi, makanan ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan. Sekresi ASI rata-rata 800-850% ml/hari, dan mengandung kalori 60-65 kalori, 1.0-1,2 gram dan lemak 2,5-3,5 gram setiap 100 ml. zat-zat ini diambil dari rubuh ibu, dan harus digantikan suplai makanan ibu sehari-hari. Untuk itu maka ibu yang sedang menyusui memerlukan tambahan 800 kalori sehari dan tambahan prortein 25 gram sehari, diatas kebutuhan bila ibu tidak menyusui.
7. Kelompok Usia Lanjut (USILA)
Meskipun USILA ini tidak mengalami penurunan fungsinya maka sering terjadi gangguan gizi. Keperluan energi pada usila sudah menurun, oleh sebab itu konsumsi makanan untuk usila secara kuantitas tidak sama dengan pada kelompok rentan yang lain. Yang penting di sini kualitas makanan dalam arti keseimbangan zat gizi harus dijaga. Kegemukan pada usila sangat merugikan pada usila itu sendiri., karena merupakan resiko untuk berbagai penyakit seperti: kardio vaskuler, diabetes militus, hipertensi dan sebagainya.
e. Pengukuran Status Gizi Masyarakat
Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa di antara kelompok umur yang rentan terhadap penyakit-penyakit kekurangan gizi adalah kelompok bayi dan anak balita. Oleh sebab itu, indikator yang baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita (bayi dan anak balita).
§ Studi-studi telah menguji berbagai pengukuran status gizi dan membuat berbagai rekomendasi.
1. Waterlow (1973) menyarankan, untuk pengukuran status gizi pada saat ini digunakan ukuran berat badan pertingi badan. Sedangkan ukuran tinggi badan per umur hanya cocok untuk mengukur status gizi pada saat yang lalu. Ia menyebutkan pula bahwa berat badan per umur berguna bagi pengukuran seri untuk anak di bawah 1 tahun.
2. Throwbridge, F (1970) dari hasil studinya menyimpulkan bahwa berat badan per umur tidak atau kurang dapat membedakan antara malnutrisi akut dan malnutrisi kronik. Oleh sebab itu, ia menyarankan bahwa berat badan per tinggi badan dan lingkar lengan atas adalah indikator yang paling baik untuk mengetahui prelevansi malnutrisi akut pada anak. Sedangkan untuk prelevansi malnutrisi kronik dipergunakan ukuran tinggi badan per umur.
3. Zeitlin, M. F. (1973) menyarankan untuk anak berumur kurang dari 2 tahun sebagai indikator pertumbuhan anak cukup menggunakan ukuran berat badan per umur saja. Dari hasil pengamatan untuk anak berumur 2-5 tahun yang mempunyai berat badan rendah mempunyai berat badan rendah menunjukan adanya malnutrisi yang berat. Selanjutnya, ia menyarankan bahwa berat badan per umur saja sudah dapat dipergunakan untuk mengukur status gizi pada anak di bawah 5 tahun. Bahkan anak yang lebih tua pun dapat mempergunakan ukuran tersebut.
4. Morley, D (1971), membahas bahwa pengukuran berat badan dan tinggi badan mempunyai beberapa kelemahan, antara lain kurang akuratnya dalam pelaksanaan pengukuran oleh para petugas. Tetapi ia menyatakan bahwa ukuran lain pun tidak mempunyai nilai yang dinamis untuk pertumbuhan nak. Akhirnya ia berkesimpulan, bahwa berat badan dan tinggi baan per umur dapat mencerminkan status gizi nak, baik pada waktu lampau maupun statu pada saat ini.
v 4 macam cara pengukuran yang sering dipergunakan di bidang gizi masyarakat serta klasifikasinya :
a. Berat badan per umur
Berdasarkan klasifikasi dari Universitas Harvard, keadaan gizi anak diklasifikasi menjadi 4 tingkat, yakni
§ Gizi lebih (over weight)
§ Gizi baik (well nourished)
§ Gizi kurang (under weight), yang mencakup kekurangan kalori dan protein (KKP) tingkat I dan II
Klasifikasi dari standar Harvard yang menurut dimodifikasi tersebut adalah sebagai berikut
§ Gizi baik, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya lebih dari 89% standar Harvard
§ Gizi kurang, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umur berada di antara 60,1% -80% standar Harvard
§ Gizi buruk, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya 60% atau kurang dari standar Havard
b. Tinggi badan menurut umur
Pengukuran status gizi bayi dan anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur, juga menggunakan modifikasi standar Harvard, dengan klasifikasinya adalah seperti berikut :
§ Gizi baik, yakni apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umurnya lebih 80% standar Havard
§ Gizi kurang, apabila panjang/tinggi badan bayi/anak menurut umurnya berada di antara 70,1% -80% dari standar Havard
§ Gizi buruk, apabila panjang/tinggi badan bayi/anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar Harvard
c. Berat badan menurut tinggi
Pengukuran berat badan menurut tinggi badan ini diperoleh dengan mengkombinasikan berat badan dan tinggi badan per umur menurut standar Havard juga. Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
§ Gizi baik, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya lebih dari 90% dari standar Havard
§ Gizi kurang, bila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya berada di antra 70,1%-90% dari standar Havard
§ Gizi buruk, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya 70% atau kurang dari standar Havard
§ Lingkar lengan atas (LLA) menurut umur
Klasifisikasi pengukuran status gizi bayi/anak berdasarkan lingkar lengan atas, yang sering pergunakan adalah mengacu kepada standar wolanski, klasisifikasinya adalah sebagai berikut :
• Gizi baik, apabila LLA bayi/anak menurut umurnya lebih dari 85% standar wolanski
• Gizi kurang apabila LLA bayi/anak menurut umurnya 70,1%-85% standar wolanski
• Gizi buruk, apabila LLA bayi/anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar wolanski.
d. Simpulan
Makanan adalah salah satu persyaratan pokok bagi manusia. Untuk itu, makanan yang dikonsumsi seharusnya memiliki nilai dan kandungan Gizi yang sesuai dengan standar gizi seimbang. Paling tidak kita harus mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.
Akibat dari pola makan dan menu yang tidak sesuai dengan kandungan gizi tersebut, bisa jadi tubuh akan mengalami kekurangan gizi dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit kurang kalori dan protein, obesitas, anemia, zerophthalmia, gondok endemik. Apalagi terhadap kelompok rentan gizi.
Sebagai langkah mudahnya kita semua diharapkan masyarakat dapat menjaga kesimbangan gizi dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi.


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. kesehatan masyarakat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger